Aliansi Nusantara Gelar Diskusi Untuk Kebangkitan Kopi Nusantara

Pengurus DPP Aliansi Nusantara berfoto bersama para narasumber Serial Dialog Nusantara di Coffe Shop Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/3/2019). Tema yang diangkat adalah “Menanti Era Kebangkitan Kopi Nusantara.” Foto: Ist.Pengurus DPP Aliansi Nusantara berfoto bersama para narasumber Serial Dialog Nusantara di Coffe Shop Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/3/2019). Tema yang diangkat adalah “Menanti Era Kebangkitan Kopi Nusantara.” Foto: Ist.

 

Jakarta,- Dewan Pengurus Pusat (DPP) Aliansi Nusantara kembali menggelar Serial Dialog Nusantara di Coffe Shop Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/3/2019). Tema yang diangkat adalah “Menanti Era Kebangkitan Kopi Nusantara.”

Narasumber yang hadir dalam diskusi ini yaitu, Ir. Anang Prihantoro (Anggota DPD RI asal Lampung), H. Nofi Candra, SE (Anggota DPD RI asal Sumatera Barat), Prof. Dr. John Pieris, S.H., M.S (Anggota DPD RI asal Maluku) dan Mickael Rudy (Praktisi dan Pakar Kopi).

Diskusi secara resmi dibuka oleh Deputi Bidang Administrasi Setjen DPD RI, Adam Bakhtiar, SH, MH, mewakili Sekjen DPD RI Dr. Reydonnyzar Moeneok, M.Devt. M.D yang berhalangan hadir.

 

IMG_20190321_152806

Dalam pengantar diskusi, Ketua Umum DPP Aliansi Nusantara T. Budiman Soelaim menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kebun kopi terluas di dunia, namun dari segi jumlah produktivitasnya masih rendah.

“Dalam hal produktivitas kopi, kita masih kalah dengan Brazil dan Vietnam. Dari total produksi kopi tingkat dunia yang mencapai sekitar 154 juta karung, ada 80 jutaan karung berasal dari kedua negara tersebut,” ungkapnya.

Prof. Dr. John Pieris, S.H., M.S menyayangkan kondisi tersebut, “Kita harus akui bahwa masih ada kekurangan produksi kopi di Indonesia. Untuk itu, perlu mengedukasi petani agar cara tanam dan menyosialisasikan kepada masyarakat untuk minum kopi Nusantara yang asli dari petani Indonesia,” ujarnya.

Senator asal Maluku itu juga menyampaikan bahwa kopi merupakan komoditas yang unik dan memiliki berbagai keunggulan.

“Kopi erat kaitannya dengan budaya masyarakat Indonesia. Dalam tradisi di Maluku, pesta adat atau pernikahan, kopi menjadi minuman terakhir sebagai penetralisir aroma. Secara medis, kopi adalah minuman yang menyehatkan dibanding teh dan yang lain. Keunikan lain kopi adalah, untuk mengawetkan mayat dengan menaburkannya,” katanya.

Sementara itu, senator asal Lampung, Ir. Anang Prihantoro berkomitmen menumbuhkan produksi dan distribusi kopi sebagai komoditi ekspor yang potensial.

“Kami melihat peluang dan tantangan dari komoditas kopi ini. Satu sisi, kopi menjadi unggulan ekspor Indonesia, namun petani kopi masih belum mendapatkan dukungan penuh. Kami akan mereview regulasi yang berkaitan dengan komoditas kopi, agar melahirkan kebijakan yang lebih pro terhadap petani,” terangnya.

Peserta diskusi terlihat antusias menyimak pemaparan narasumber, sambil sesekali menyeruput kopi Nusantara yang disediakan panitia. Rencananya, diskusi tentang Kopi Nusantara ini kembali diagendakan ke depannya.

“Kami melihat antusias peserta dan narasumber untuk menggali lebih dalam mengenai persoalan kopi dan keunikannya. Kami akan carikan format diskusi dengan tema kopi yang lebih berbeda, semoga lebih menarik dan peserta antusias,” kata Zainal Abidin, Sekjen Aliansi Nusantara, di lokasi diskusi.

IMG_20190321_152231

Untuk diketahui, Aliansi Nusantara atau disingkat Alsantara merupakan sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang mempunyai visi untuk “Menjadi penggerak pembangunan daerah untuk mewujudkan kejayaan NKRI”.

Didirikan di Jakarta pada 15 Januari 2016, kini Alsantara sudah terbentuk di 28 Provinsi, untuk tingkat DPW dan lebih dari 80 Kabupaten/kota untuk tingkat DPC di Seluruh Indonesia.  Mottonya: “Daerah Sejahtera, Indonesia Jaya”.

Keanggotaan Alsantara terbuka untuk umum. Saat ini, Anggotanya berasal dari lintas profesi. Antara lain: Staf Ahli DPD RI, Staf dan Tenaga Ahli DPR RI, Pengacara, Jurnalis, Akademisi, Pekerja Profesional, Wiraswasta, Aktivis LSM, Pekerja Sosial, Aktivis Mahasiswa dan lain-lain.

(MSFI, Red-A3)

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest