Fisika (Bukan) Hantu Pembelajaran

Foto: IstFoto: Ist

 

Oleh: Isna Juita Nurhidayah

(Aktivis Muda & Mahasiswa Pendidikan Fisika UIN Walisongo Semarang)

 

Di dalam pembelajaran saat ini, lazim diketahui bahwa mata pelajaran fisika menjadi momok tersendiri bagi banyak kalangan. Seakan ada tonjokan keras yang menyasar psikologi mayoritas peserta didik maupun pendidik setiap kali dihadapkan pada mata pelajaran fisika. Mata pelajaran ini menjadi “menakutkan”. Hal ini, antara lain didukung oleh realita yang terjadi saat ini, banyak peserta didik yang “takut” pelajaran fisika. Tidak hanya “takut”, sikap mereka juga mengarah ke rasa “benci” pada pelajaran ini.  Hal lain dapat kita lihat dari nilai-nilai peserta didik. Rata-rata nilai yang mereka dapat untuk mata pelajaran fisika relatif rendah.

Mindset atau pola pikir peserta didik yang cenderung negatif tentang fisika (karena menakutkan), pada akhirnya membuat mereka untuk enggan belajar lebih lanjut tentangnya. Enggan mendalami tentang materi-materi yang berkaitan dengan fisika. Alhasil nilai mata fisika merekapun jeblok. Karena hasil yang tidak memuaskan itu, terbentuklah kesimpulan bahwa fisika adalah pelajaran yang sulit. Tak aneh kiranya jika banyak di antara mereka menyamakan fisika dengan hantu, sama-sama menakutkan. Ya, fisika menjadi hantu dalam pembelajaran.

Pandangan pelajar yang cenderung negatif terhadap pelajaran ini akan semakin menjadi tatkala guru atau dosen pengampunya apatis, killer, tidak mudah senyum, dan kurang bersahabat dengan peserta didik. Maka, sempurna. Fisika semakin menjadi hantu dalam pembelajaran.

Mengenai persoalan di atas, perlulah bercermin kembali mengenai arti belajar dan pembelajaran. Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara individu maupun kelompok yang bertujuan untuk menggali, mencari, serta menambah informasi, sehingga menjadikan perubahan bagi pelaku baik dari segi tingkah laku, intelektual, dan pengalaman (aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik). Sedangkan pembelajaran merupakan suatu usaha ataupun kegiatan yang terarah yang dilakukan oleh orang sekelompok orang (pendidik dan peserta didik) yang memiliki tujuan yang sama. Kegiatan pembelajaran lebih berpusat kepada peserta didik.

Karena kegiatan pembelajaran lebih berpusat kepada peserta didik, maka yang seharusnya terjadi adalah: di dalam pembelajaran tidak boleh ada unsur paksaan, tekanan, pembatasan ruang lingkup dan pendiskriminasian. Sebaliknya, yang semestinya dihadirkan dalam pembelajaran adalah suasana belajar yang menyenangkan, gembira, tentram, berkualitas, dan tentunya bebas.

Fisika Permainan Berkualitas

Pembelajaran semestinya memang harus dilaksanakan dengan gembira dan menyenangkan. Jika suasana itu yang dihadirkan, maka proses pembelajaran tak akan ada bedanya dengan bermain. Bebas dan mengasikkan. Hasilnya pasti juga akan lebih baik. Tengok saja penemuan bola lampu oleh Thomas Alva Edison. Ia melakukan pembelajaran dengan senang tanpa adanya paksaan atau pun tekanan. Pembelajaran digambarkan olehnya seperti permainan. Hasilnya, ia berhasil menemukan bola lampu (dan penemuan-penemuan lainnya). Keberhasilannya dalam menemukan bola lampu, tentunya tak terlepas dari kajian ilmu yang mendalam yaitu ilmu Fisika.

Selain bola lampu, ada banyak hal dalam kehidupan manusia yang terkait dengan pelajaran fisika. Semua bisa dipelajari dengan ilmu fisika. Seperti permainan anak-anak bandul, bola bekel, ayunan, motor listrik dan lain sebagainya. Contoh-contoh tersebut pada dasarnya telah mengandung beberapa materi tentang fisika. Tentang gaya, gerak, magnet, listrik, cahaya dan lain sebagainya. Jika pembelajaran fisika bisa dipadukan dengan permainan-permainan, tentu saja pembelajaran akan menjadi lebih menyenangkan dan efektif. Sayangnya, sepertinya hal itu belum banyak dilaksanakan dalam pembelajaran fisika selama ini.

Jadi, fisika bukanlah mata pelajaran ataupun ilmu yang sulit, menakutkan, tidak masuk akal, membosankan dan lain sebagainya. Fisika bisa menjadi ajang belajar dan bermain, senang-senang yang berkualitas jika dilaksanakan dengan proses pembelajaran yang asik. Namun, kesadaran mengenai pembelajaran yang “menyenangkan” pada fisika terhitung minus. Hal ini terjadi karena kurangnya sikap skeptis (tidak mudah percaya), kritis, dan rasa ingin tahu yang dimiliki oleh beberapa kalangan (pendidik, peserta didik, dan masyarakat) terhadap ilmu fisika. Mayoritas orang tidak sadar, malas, bahkan tidak mau tahu mengenai fenomena-fenomena alam dan teknologi yang berkaitan dengan Fisika.

Kesadaran mereka (khususnya peserta didik) mengenai banyaknya nilai positif yang terdapat dalam ilmu fisika memang perlu untuk dirangsang. Injeksi rangsangan tersebut, merupakan salah satu tugas pendidik. Wujud rangsangan yang semestinya diterapkan pengampu pelajaran fisika adalah mengaitkan materi fisika dengan gejala-gejala alam ataupun fenomena-fenomena di lingkungan sekitar. Yang kiranya dapat ditangkap oleh peserta didik.

Selain itu, pembelajaran fisika seharusnya juga dilaksanakan dengan metode atau pola pembelajaran yang lebih mengedepankan sikap skeptis, kritis, jujur, serta rasa ingin tahu yang besar. Hal itu perlu. Sebab, hal itu kemungkinan besar akan menarik peserta didik untuk lebih menyukai fisika. Minimal perserta didik mau belajar tentang ilmu fisika, meskipun belum mandalam.

Kesimpulannya, mata pelajaran fisika bukanlah hantu dalam pembelajaran. Bukanlah suatu yang menakutkan. Fisika adalah ilmu yang sangat bermanfaat, menyenangkan, serta berperan banyak dalam kehidupan manusia. Fisika akan bisa menjadi hantu dalam pembelajaran, jika peserta didik tidak mau tahu atau apatis terhadap pelajaran ini. Wa Allahu A’lamu bi as-Showaab.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest

Be the first to comment on "Fisika (Bukan) Hantu Pembelajaran"

Leave a comment