Nusantara Centre Sarankan Pemerintah Garap Program Depopulation Untuk Atasi Kemiskinan

IMG-20190908-WA0012

 

Depok,- Kemiskinan telah menjadi salah satu permasalahan yang rumit di Indonesia, bukan karena tidak ada solusi. Melainkan tidak ada inisiatif untuk menyelesaikannya.

Hal itu disampaikan oleh Yudhie Haryono, pengamat kebangsaan dan pendiri Nusantara Centre, dalam diskusi bertema “Menuju Indonesia Bebas Kemiskinan” di Markas Nusantara Centre, Depok, Jawa Barat, Sabtu (7/9/2019).

Menurut Yudhie, beberapa pihak “merasa nyaman” dengan kondisi kemiskinan di Indonesia. Tujuannya, hanya untuk melanggengkan kekuasaannya dan mencari keuntungan di balik masalah tersebut.

Yudhie menjelaskan, sebenarnya sudah ada banyak metode yang digunakan untuk mengentaskan penduduk miskin di Indonesia. Namun, metode-metode itu ternyata tidak mendatangkan hasil yang maksimal.

Menurutnya, upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan sampai saat ini memang berhasil menurunkan angka kemiskinan. Namun, jika melihat angka kemiskinan absolut, per Maret 2018, jumlah orang miskin di Indonesia masih sangat besar, mencapai 25,95 juta orang.

“Bahkan, jika dilihat dengan perspektif yang lebih luas, terdapat 72 juta orang yang masuk ke dalam kelompok rentan dan sewaktu-waktu dapat jatuh ke kelompok miskin. Misalnya ketika kehilangan pekerjaan, sakit berkepanjangan, atau mengalami bencana,” papar Yudhie.

Nusantara Centre sendiri telah merilis konsep penanganan kemiskinan di Indonesia. Dalam kajian postkolonial yang sering didiskusikan, salah satu hipotesa untuk mengurangi kemiskinan adalah depopulasi.

Over populasi yang dirasakan Indonesia, menyebabkan sumber-sumber kemiskinan terus meningkat sehingga cara paling sederhana adalah depopulasi, salah satu bentuknya dengan merevitalisasi program keluarga berencana (KB).

“Sepertinya pemerintah enggan melakukan upaya mengentasan kemiskinan melalui cara yang berat misalnya mengatur kurs asing, berdaulat terhadap aset negara, atau menaikkan potensi pajak asing. Maka, depopulasi adalah metode paling mudah jika mau dilakukan,” jelas Yudhie.

Depopulasi ini, lanjut Yudhie, dapat dilakukan melalui gerakan untuk membentuk keluarga sehat dan sejahtera dengan membatasi umur pernikahan dan jumlah kelahiran.

“Misalnya, usia pernikahan minimal 20 tahun dan jumlah anak dalam keluarga adalah satu,” tutup Yudhie. (M. Shofi, Red-A2)

 

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest