Wali Allah dan Wali Syetan

M. Rikza Chamami. (Foto: Dok.Pribadi)M. Rikza Chamami. (Foto: Dok.Pribadi)

 

oleh: M. Rikza Chamami*

Saya mencatat salah satu ungkapan Kyai Khalil dari Klaten saat ikut Orientasi Kader Ulama MUI Jateng, yaitu auliyaillah dan auliyaissyaitan. Kalau diterjemahkan sederhana berarti wali Allah dan wali syetan.

Dua istilah yang menurut hemat saya terlalu dipaksakan. Namun di sisi lain patut untuk dibuat renungan hidup soal keberagamaan akhir-akhir ini. Dimana agama secara pelan-pelan dijadikan pembenaran atas segala perilaku.

Ada orang yang merasa menjadi Nabi. Adapula yang ingin menyatukan agama ibrahim. Dan ada yang merasa mendapatkan bisikan dari Jibril. Termasuk ada kelompok yang diperintah Allah untuk berperang melawan kekafiran dengan aksi teror dan perang.

Ada orang awam yang bertanya: kenapa terjadi demikian? Dan tentu jawabnya tidak mudah. Karena masing-masing memiliki pimpinan agama yang dijadikan panutan hidup.

Yang menjadi berbeda adalah, jika panutan itu benar-benar ulama pewaris para Nabi, maka disitulah garis keilmuan lahir dari para waliyullah (kekasih Allah). Ajaran-ajarannya akan berkiblat pada teologi yang kuat, fiqh yang mapan, ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah dll) yang matang dan sebagainya.

Teologi yang diajarkan sangat terbuka dengan memahami mu’taqad seket (50 ideologi sunni). Fiqh yang dilahirkan juga sangat memahami perbedaan antar madzhab. Sehingga generasi penerus waliyullah ini sudah dilatih dengan perbedaan dan tidak “gumunan/kagetan”.

Ini akan berbeda dengan penganut agama yang merasa paling beragama. Orang yang berbeda selalu dianggap bid’ah, musyrik dan kafir. Kenapa demikian? Karena memang gurunya mengajarkan demikian. Ayat dan matn hadits yang diajarkan dipilih yang galak-galak dan tidak dilatih dengan adanya perbedaan.

Maka wajar jika cara belajarnya dengan orang terbatas, bergerombol dan bersekongkol. Anehnya mereka belajar tanpa sanad ilmu dengan menyebut agama tidak kenal madzhab tapi harus kembali pada dua tinggalan Nabi (Al-Qur’an dan hadits). Bagaimana bisa paham isi Al-Qur’an dan hadits jika kemampuan bahasa Arab saja tidak bisa. Solusinya adalah belajar dengan terjemah-terjemah yang tidak mengupas intisari ayat dan tidak dipahamkan asbabul nuzul dan asbabul wurud.

Mestinya kurang sependapat kalau generasi semacam ini disebut sebagai penerus wali syetan. Namun perilaku yang selalu emosi, marah, galak dan gampang menyatakan kafir pada yang beda itulah yang disebut sebagai nafsu syaithaniyyah. Padahal Nabi jelas menyebutkan la taghdzab wa lakal jannah , jangan marah bagimu surga.

Semoga selalu bertambah generasi penerus wali Allah dengan cinta Kyai, Habaib dan ilmu. Dengan itu secara otomatis akan cinta pesantren dan cinta shalawat.

*M. Rikza Chamami adalah Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest

Be the first to comment on "Wali Allah dan Wali Syetan"

Leave a comment